Kedua, Competency. Seorang pejabat harus kompeten, paham akan persoalan yang bakal dihadapi, dan tahu bagaimana harus menyelesaikannya. Ingat pelajaran IFA (Imagine, Focus, and Action). Imagine itu punya mimpi besar, dan bisa mewujudkan impiannya dalam kenyataan.
“Maka, pemimpin yang hebat itu harus berawal dari akhir. Mau di bawa ke mana dan dibuat apa dulu, baru ditemukan cara menuju ke sana,” kata Arief Yahya, pria asli kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur itu.
Fokus, itu kerjakan yang utama dulu. Alokasikan seluruh waktu, tenaga, perhatian, budget dan sumber daya untuk menuntaskan pekerjaan yang utama terlebih dahulu. Action, itu impian jangan berhenti di mimpi atau konsep saja, tetapi harus action sampai mewujudkan menjadi nyata.
C yang ketiga, Collaboration, bisa bekerjasama dengan pihak manapun, untuk mencapai tujuan utama Kementerian ini. Yakni, menuju target 20 juta Wisman di tahun 2019. Lalu dibreakdown setiap tahunnya, harus mencapai target di angka berapa banyak.
“Di sinilah perlu Indonesia Incorporation. Spirit bersama untuk Merah Putih, untuk Indonesia, maka harus bisa bersatu,” ujarnya.
WIN-Way, atau Wonderful Indonesia Way itu sudah ditetapkan sebagai budaya kerja di Kemenpar. Menpar menyebut WIN-Way, sama dengan yang dilakukan IBM dengan IBM-Way, GE-Way ataupun Telkom-Way, sebuah budaya kerja yang diciptakan untuk memenangkan persaingan.
“Kalau semuanya solid, speed, smart, dan bisa menjalin kerjasama yang padu dengan Academician, Business, Government, Community, dan Media, maka kemenangan itu hanya tinggal menunggu waktu,’’ katanya.
Sejumlah tips tadi langsung ‘membakar’ semangat GIPI. Ketua GIPI periode 2016 2021 Didien Junaedy mengaku sepakat dengan Menpar. Menurutnya, pemasaran pariwisata, pengembangan destinasi, dan percepatan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) harus dikejar dalam upaya majunya pariwisata Indonesia.
“Semuanya ini merupakan program kerja utama GIPI yang harus dicapai, serta fokus pada 10 destinasi prioritas yang ditetapkan pemerintah,” kata Didien.
Didien mengatakan, sebagai implentasi dari program tersebut GIPI akan mengarahkan anggotanya dari kalangan asosiasi pariwisata seperti PHRI dan ASITA agar turut aktif mengembangkan dan menjual 10 destinasi prioritas tersebut, baik itu pembangunan hotel maupun penjualan paket-paket tour.
“Kami juga akan menggelar famtrip ke sejumlah destinasi tersebut, yang diikuti semua unsur pentahelix anggota GIPI dengan output yang berbeda-beda. Seperti jurnalis akan menulis tentang destinasi tersebut, biro perjalanan akan membuat paket tour, dan pihak perhotelan akan menawarkan ke investor,” jelas Didien.
Hadir dalam pelantikan pejabat baru itu, semua Deputi Kemenpar, Ketua Tim Pokja 10 Top Destinasi, Hiramsyah Sambudy Thaib, Ketua PHRI Haryadi Sukamdani, Ketua ASITA Asnawi Bahar, Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Riyanto Sofyan, Ketua Tim Percepatan Ecotourism David Makes, Pemilik Hotel Rhadana Kuta Bali Rainier Daulay dan sejumlah pengurus industri dan asosiasi yang bergerak di sector pariwisata.
(*)

